Pelatihan memori untuk pasien Alzheimer

  Gangguan memori adalah manifestasi klinis utama penyakit Alzheimer. Pada tahap awal, pasien menderita gangguan memori dekat (ketidakmampuan untuk mengingat peristiwa baru-baru ini), pada tahap tengah, gangguan memori jauh (ketidakmampuan untuk mengingat peristiwa sebelumnya), dan pada tahap akhir, kehilangan memori total (ketidakmampuan untuk mengingat apa pun, bahkan tidak mengenali anggota keluarga terdekat seseorang). Untuk gangguan memori, selain mengonsumsi obat pendidikan di bawah bimbingan dokter yang berpengetahuan luas, pelatihan memori yang tepat dapat dilakukan untuk mempertahankan memori asli pasien sebanyak mungkin dan untuk menunda penurunan memori lebih lanjut.  Memori tidak hanya memainkan peran besar dalam pekerjaan, studi dan kehidupan seseorang, tetapi juga merupakan sarana penting untuk memastikan kesehatan manusia dan menunda penuaan otak. Latihan memori dikenal sebagai “latihan senam” untuk sel-sel otak. Melakukan “senam” ini secara teratur dapat mencegah penuaan otak dan merupakan resep yang baik untuk kesehatan otak. Survei epidemiologi telah menemukan bahwa kejadian penyakit Alzheimer secara signifikan lebih rendah di antara mereka yang lebih berpendidikan daripada mereka yang kurang berpendidikan, dan bahwa rendahnya tingkat melek huruf merupakan faktor risiko untuk penyakit Alzheimer. Mayoritas orang yang cerdas dan rajin mengingat memiliki hasil normal pada pemeriksaan tomografi terkomputerisasi (CT) kepala meskipun usia mereka sudah lanjut. Beberapa orang yang malas dalam berpikir dan tidak memperhatikan gerakan mereka untuk waktu yang lama, meskipun mereka berada di puncak kehidupan, kepala mereka tidak menunjukkan tanda-tanda atrofi otak seperti pelebaran ruang subarachnoid dan sulkus otak, penipisan korteks serebral dan pembesaran ventrikel.  Dalam pelatihan memori untuk pasien dengan penyakit Alzheimer, kita harus fokus pada proses pelatihan daripada hasil pelatihan. Artinya, ini tidak selalu tentang seberapa banyak pasien mengingat, tetapi lebih pada fakta bahwa pasien telah berpartisipasi dalam pelatihan dan menggunakan otaknya. Selama pelatihan memori, kesulitan memori tidak boleh terlalu tinggi dan harus diatur sesuai dengan situasi aktual pasien. Jika tingkat kesulitannya terlalu tinggi, di satu sisi, pasien tidak akan mampu menyelesaikannya; di sisi lain, hal ini menambah beban mental pasien dan menyebabkan reaksi emosional yang merugikan; ditambah dengan berkurangnya penilaian pasien karena kecerdasannya yang rendah, pasien tidak hanya menolak untuk bekerja sama dengan pelatihan, tetapi beberapa bahkan dapat memicu gangguan mental dan perilaku.  1. Pasien dengan penyakit Alzheimer yang gangguan ingatannya sudah jelas tetapi belum parah. Jika pasien suka membaca koran, buku atau televisi, jangan batasi atau hentikan dia untuk membaca selama dia masih mau melakukannya. Jika pasien suka bermain kartu atau mahjong, ketika pasien belum sepenuhnya kehilangan minat dan kemampuannya di bidang ini, ia dapat menemukan beberapa orang untuk bermain dengannya ketika ia bebas, tetapi tidak peduli seberapa baik ia bermain. Tentu saja, selama pasien bersedia, Anda juga dapat memainkan beberapa permainan mental sederhana dengannya, seperti bermain catur terbang, menghitung 24 poin dan melakukan teka-teki yang tidak rumit.  2. Untuk pasien dengan gangguan ingatan yang parah, letakkan beberapa benda sederhana dan menarik perhatian yang berguna dalam kehidupan sehari-hari di kamar mereka, seperti kalender, jam, berbagai mainan, dll. Ajarkan kepada mereka setiap hari hari apa hari itu, tetapkan waktu hidup yang teratur, beri tahu mereka kapan harus bangun, tidur, makan, minum obat, mandi, dll. Dengan cara ini, pelatihan jangka panjang yang ditargetkan dilakukan untuk memperkuat ingatan mereka. Untuk nama-nama beberapa benda, ulangi 3 sampai 5 kali sehari dan berikan hadiah kepada mereka yang menjawab dengan benar dengan makanan kecil atau saputangan dan benda-benda lain untuk mengkonsolidasikan minat dalam ingatan. Jika jawabannya salah, jumlah waktu belajar anak ditambah dan anak tidak diperbolehkan keluar rumah. Ketika memperkuat latihan daya ingat, pengasuh harus bersikap baik dan sabar, dan tidak boleh menegur atau mengolok-olok pasien dengan cara yang kasar. Bagi mereka yang tidak pandai dalam pelatihan ingatan, mereka bisa menggunakan metode menulis nama-nama benda dan waktu untuk memperkuat ingatan mereka, tetapi mereka harus gigih.