Apa itu Serangan Iskemik Transien

  Serangan iskemik transien (TIA), umumnya dikenal sebagai “stroke mini,” adalah serangkaian gejala yang terjadi ketika pasokan darah dan oksigen ke jaringan otak lokal terganggu untuk sementara waktu. Tidak seperti stroke, gejala TIA tidak berlangsung lebih dari 24 jam, biasanya kurang dari 30 menit, dan sembuh dengan sendirinya. Namun, risiko stroke berikutnya sangat tinggi untuk setiap pasien dengan TIA, jadi ini adalah tanda peringatan dini stroke dan harus ditanggapi dengan cukup serius. Beberapa dokter membandingkan hubungan antara TIA dan stroke dengan hubungan antara angina pectoris dan infark miokard, yang sangat tepat. Begitu TIA terjadi, penting untuk segera mencari pertolongan medis.          Faktor risiko untuk TIA dan stroke sangat mirip dengan penyakit jantung koroner, termasuk hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, merokok, obesitas, dan riwayat keluarga. TIA dan stroke lebih sering terjadi pada pria, tiga kali lebih sering terjadi daripada wanita. Risiko TIA dan stroke meningkat secara bertahap seiring bertambahnya usia setelah usia 45 tahun, dengan risiko tertinggi pada 2 kelompok usia 70 dan 80 tahun.  Pasokan darah ke otak adalah tanggung jawab 2 sistem vaskular yang terpisah: sistem arteri karotis dan sistem vertebrobasilar. Tergantung pada sistem suplai darah dan jaringan otak yang rusak, gejala TIA sangat bervariasi. Gejala TIA yang terkait dengan penyakit arteri karotis antara lain: kehilangan penglihatan pada satu sisi; kecanggungan atau kelemahan satu anggota tubuh; dan gangguan bicara. Gejala yang terkait dengan sistem vertebrobasilar meliputi: gangguan penglihatan pada kedua mata; vertigo; ataksia; diplopia; kehilangan kesadaran atau amnesia sementara.  Gejala awal TIA dan stroke sangat mirip dan hanya dapat dibedakan dengan pemeriksaan klinis atau dari waktu ke waktu. Meskipun gejala-gejala TIA dapat kembali normal dengan sendirinya, gejala-gejala tersebut tidak boleh diabaikan. Karena risiko TIA berulang atau mengalami stroke sangat tinggi pada pasien TIA, sekitar setengah dari pasien TIA akan mengalami stroke dalam waktu 1 tahun dan 1/5 akan mengalami stroke dalam waktu 1 bulan, jadi begitu dicurigai adanya TIA, penting untuk mencari konsultasi medis untuk menemukan penyebabnya dan memberikan perawatan medis atau bedah yang tepat untuk mencegah stroke di masa depan.  Dokter akan membuat diagnosis TIA berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik dan tes tambahan lainnya, dikombinasikan dengan ada atau tidaknya faktor risiko stroke. Pemeriksaan fisik berfokus pada sistem kardiovaskular dan sistem saraf. Pemeriksaan fisik sistem kardiovaskular termasuk mencari murmur jantung, irama jantung yang tidak teratur dan adanya murmur karotis, yang jika ada, menunjukkan kemungkinan adanya stenosis karotis, yang terakhir mengarah pada pengembangan TIA. Pemeriksaan neurologis berfokus pada kekuatan otot (adanya kelemahan otot pada satu sisi), bicara, bidang visual, koordinasi gerakan dan saraf otak (yang mengendalikan fungsi motorik dan sensorik wajah dan leher). Elektrokardiogram, rontgen dada dan pemindaian otak (CT atau MRI scan) juga diperlukan. Tes darah juga sering diperlukan, tetapi ini tidak terlalu membantu dalam mendiagnosis atau mengesampingkan TIA, tetapi terutama untuk mencari kemungkinan penyebab dan untuk memandu pengobatan lebih lanjut. Tes lain yang mungkin dilakukan termasuk USG jantung (untuk mendeteksi adanya penyakit katup jantung), USG Doppler karotis (untuk menilai adanya stenosis karotis), angiografi resonansi magnetik atau USG Doppler transkranial (untuk mendeteksi adanya stenosis arteri intrakranial). Setelah TIA teridentifikasi, etiologi dan pencegahan kekambuhannya perlu dicari.  Setelah mengesampingkan tidak adanya pendarahan otak, beberapa obat pengencer darah seperti aspirin atau sejenisnya dapat diberikan; beberapa pasien mungkin memerlukan beberapa obat antikoagulan seperti warfarin. Jika ditemukan adanya stenosis karotis, endarterektomi karotis mungkin diperlukan untuk menghilangkan plak aterosklerotik dalam arteri karotis.  Untuk pasien yang belum pernah mengalami TIA, kunci pencegahannya adalah menghilangkan atau meminimalkan faktor risiko yang mendasarinya. Misalnya, mengendalikan hipertensi, diabetes dan hiperlipidemia melalui diet, latihan fisik atau obat-obatan; dan berhenti merokok. Untuk pasien yang pernah mengalami TIA, pencegahan harus fokus pada menghilangkan faktor risiko dan kemungkinan penyebab stroke lainnya.