Transient ischaemic attack (TIA) adalah kurangnya pasokan darah sementara ke sistem arteri karotis internal atau sistem arteri vertebrobasilar, yang dimanifestasikan sebagai onset mendadak defisit neurologis terbatas yang pulih sepenuhnya dalam hitungan detik, menit dan jam, hingga maksimum 24 jam, tanpa meninggalkan tanda atau gejala apa pun, dan sering berulang. Manifestasi klinis transient ischaemic attack (TIA) Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria daripada wanita setelah usia pertengahan. Onsetnya mendadak dan berumur pendek, dengan tanda dan gejala yang memuncak dengan cepat setelah onset dan berlangsung dari detik hingga menit hingga puluhan menit atau jam, dengan pengembalian total ke normal dalam waktu 24 jam tanpa gejala sisa. Gejala defisit neurologis fokal sering terjadi berulang kali dan dalam pola sesuai dengan area persarafan masing-masing pasien, mulai dari beberapa kali sehari hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dengan episode TIA yang lebih sering pada sistem vertebrobasilar. Tergantung pada pembuluh darah yang terlibat, TIA secara klinis diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama: TIA sistem arteri karotis internal dan TIA sistem arteri vertebrobasilar. (a) TIA sistem arteri karotis internal memiliki gejala yang beragam, dengan TIA di area arteri serebral tengah yang dipersarafi adalah yang paling umum. Gejala umum dapat mencakup kelemahan, mati rasa, kehilangan sensasi atau kehilangan sensasi pada tungkai atas dan/atau bawah lateral, afasia, disleksia, diskalkulia, disgrafia dan, yang lebih jarang, hemianopia. Kebutaan monokular transien adalah gejala karakteristik iskemia arteri karotis interna dan unik untuk TIA sistem karotis interna. Jika episode hemiparesis disertai dengan kebutaan monokular sementara atau gangguan penglihatan pada sisi berlawanan dari paresis, diagnosis klinisnya adalah serangan iskemik sementara dari arteri karotis interna pada sisi kebutaan. Gejala-gejala di atas dapat terjadi secara terpisah atau dalam kombinasi. (ii) TIA pada sistem vertebrobasilar kadang-kadang sulit didiagnosis bila hanya muncul dengan gejala yang samar-samar seperti pusing, penglihatan kabur dan berjalan goyah. Gejala fokal yang paling sering muncul adalah vertigo, yang biasanya tidak disertai dengan tinitus yang signifikan. Diagnosis lebih jelas jika terdapat gejala keterlibatan batang otak dan serebelar seperti diplopia, disartria, disfagia, gangguan sensorik seperti paresis tungkai menyilang atau bilateral, ataksia, dan suplai darah yang tidak adekuat ke arteri serebelar posterior dapat bermanifestasi sebagai kebutaan kortikal dan defek lapang pandang. Pasien tiba-tiba kehilangan ketegangan pada kedua tungkai bawah dan jatuh ke tanah tanpa gangguan kesadaran yang terlihat, tetapi pasien dapat segera bangun. Sakit kepala oksipital posterior dan keruntuhan mendadak, terutama setelah gerakan kepala yang cepat atau gerakan anggota tubuh bagian atas, dapat mengindikasikan kekurangan suplai darah ke sistem vertebrobasilar dan adanya spondylosis serviks atau pencurian arteri subklavia. Beberapa gejala dapat dilihat pada sistem karotis internal dan sistem vertebrobasilar. Gejala-gejala ini termasuk disartria dan hemianopia isotropik. Jika vertigo (dengan atau tanpa mual atau muntah), disartria, disfagia, atau diplopia hadir sendirian, diagnosis TIA tidak boleh dibuat dengan mudah dan harus dikombinasikan dengan investigasi klinis lainnya untuk menemukan penyebab pastinya. Kombinasi dari dua atau lebih gejala-gejala ini, atau kelumpuhan bersilang dengan gangguan motorik, sensorik dan visual serta ataksia, merupakan diagnostik dari episode TIA vertebrobasilar. Durasi TIA singkat, berlangsung kurang dari 15 menit, biasanya tidak lebih dari 30 menit, dan jarang sampai 12-24 jam. Namun, jika tanda-tanda neurologis masih dapat dideteksi setelah 24 jam, jelas bahwa infark serebral telah terjadi. Perjalanan dan prognosis serangan iskemik transien: Riwayat alami TIA adalah 25-40% infark serebral dalam waktu 5 tahun, dan banyak penelitian prospektif retrospektif telah mengkonfirmasi tingkat keparahan TIA sebagai prekursor penyakit serebrovaskular iskemik yang parah, terutama ketika TIA sering terjadi pada sistem karotis. Infark serebral terjadi dalam waktu 1 bulan setelah timbulnya TIA pada sekitar 36% pasien dan dalam waktu 12 bulan pada 50%. Diperkirakan bahwa sekitar 1/3 episode TIA berlanjut tanpa gangguan fungsional yang bertahan lama, 1/3 mengalami infark serebral dan 1/3 lainnya berhenti dengan sendirinya. Menurut laporan klinis selama bertahun-tahun, TIA tidak hanya merupakan pendahulu infark serebral, tetapi juga infark miokard, yang sering menjadi penyebab utama kematian pada pasien TIA. Oleh karena itu, serangan TIA harus diperlakukan sebagai keadaan darurat.