Kita semua mengalami mimpi, dan sebagian dari kita bahkan membicarakannya secara detail secara grafis. Jadi, apa itu mimpi? Sepanjang sejarah, ada berbagai definisi tentang mimpi. Mojing mengatakan: “Mimpi juga dipikirkan sambil berbaring.” Mimpi adalah pemandangan yang dirasakan saat tidur; bermimpi berarti tidur, kalau tidak, untuk apa bermimpi? Mimpi adalah keadaan gelisah saat tidur; mimpi adalah kelanjutan dari aktivitas mental dari kondisi terjaga seseorang; mimpi adalah sejenis imajinasi yang tidak disengaja; mimpi adalah cerminan realitas objektif seseorang, dan inilah yang dikatakan oleh para pemikir kuno Tiongkok tentang empat lapisan makna mimpi. Sejak tahun 1960-an, para peneliti yang berbeda telah mendefinisikan mimpi dengan berbagai cara sesuai dengan pemahaman mereka yang berbeda, dan pada tahun 1962, Fox dkk. berpendapat bahwa “mimpi adalah gambaran visual, pendengaran, atau kinestetik apa pun yang terjadi selama tidur.” Berger dkk. mendefinisikan mimpi sebagai “munculnya berbagai gambaran dan sensasi indrawi yang aneh atau tidak nyata bagi orang yang bersangkutan.” Semua ini memberikan gambaran umum tingkat tinggi tentang mimpi, namun semuanya tampak tidak lengkap. Sulit untuk memberikan definisi yang tepat tentang mimpi sekaligus. Pengobatan modern menganggap bahwa definisi mimpi harus memiliki dua karakteristik: 1) mimpi harus merupakan pengalaman majemuk yang terjadi selama tidur; 2) mimpi merupakan gambaran yang diatur untuk memberikan persepsi dan berkembang atau berubah. Ini berarti mimpi adalah halusinasi yang muncul secara alami dan diterima sebagai fakta selama tidur. Pandangan ini diterima oleh sebagian besar ilmuwan. Faktanya, mimpi terjadi pada periode tidur gelombang cepat, sehingga terjadi secara berkala dengan interval 90 menit setiap malam, dan merupakan aktivitas gambaran mental yang spontan. Jika kita menambahkan karakteristik ‘spontanitas’ dan ‘periodisitas’ ke dalam pandangan Snyder, definisi mimpi menjadi lebih lengkap.