Hepatitis autoimun perlu didiagnosis dengan pertanyaan, sistem skor diagnostik, dan tes yang relevan, tetapi tidak ada data yang jelas tentang diagnosis banding yang relevan. 1. Diagnosis: (1) Konsultasi: Biasanya ketika pasien mengunjungi dokter, dokter akan berkonsultasi terlebih dahulu untuk memahami kondisi pasien, terutama termasuk berapa lama gejala pencernaan yang muncul, riwayat penyakit autoimun, riwayat keluarga, apakah pasien pernah divaksinasi virus hepatitis dan apakah pasien baru-baru ini mengonsumsi obat khusus. (2) Sistem skor diagnostik: Item dalam sistem skor diagnostik terutama mencakup hasil antibodi autoimun dalam darah dan hasil histopatologi dari tusukan hati untuk penilaian yang komprehensif. (3) Pemeriksaan yang relevan: Biasanya, pasien perlu menjalani pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan pencitraan dan pemeriksaan khusus. Pemeriksaan fisik umum terutama mengamati apakah pasien mengalami ikterus, edema tungkai, petekie, hepatosplenomegali, tekanan hati dan nyeri tekan limpa, dll., sedangkan pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan peningkatan alanin aminotransferase dan aspartat aminotransferase, peningkatan Y-globulin. 2. Diagnosis banding: hepatitis autoimun mudah dikacaukan dengan jenis hepatitis lain karena kemiripan gejala. Biasanya, pasien dengan penyakit ringan mungkin tidak memiliki gejala apa pun, tetapi jika pasien memiliki gejala gangguan fungsi hati seperti perut kembung, kelelahan, anoreksia, dll., atau bahkan disertai dengan organ lain atau penyakit kekebalan sistemik, atau dengan peningkatan aminotransferase yang tidak dapat dijelaskan, mereka harus waspada pada waktunya. Dianjurkan agar pasien secara aktif bekerja sama dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan yang relevan untuk diagnosis, dan jika diagnosisnya jelas sebagai hepatitis autoimun, pengobatan aktif juga diperlukan.