1. Penyebab psikologis dari kecemasan
Kecemasan adalah konsep inti dari teori psikoanalitik, dan psikoanalisis telah melakukan penelitian yang paling sistematis dan mendalam tentang kecemasan. Yunyun Liu, Departemen Neurologi, Rumah Sakit Keenam Universitas Sun Yat-sen
1.1 Teori Freud tentang kecemasan
Freud. Freud Sigmund (1856-1939) secara berturut-turut mengemukakan dua teori kecemasan. Teori awalnya adalah bahwa kecemasan ditransformasikan oleh Libido yang tertekan dan bahwa ego adalah sumber kecemasan. Kemudian dia mengembangkan teori kecemasan yang didasarkan pada tiga serangkai kepribadian ego, diri dan superego. Pada titik ini ia berpendapat bahwa sumber kecemasan bukanlah ego, tetapi ego, dan bahwa kecemasan adalah sinyal bahaya dan fungsi ego. Sebaliknya Freud membagi kecemasan menjadi tiga jenis: (1) kecemasan realistis; (2) kecemasan neurotik; dan (3) kecemasan moral.
Sisi rasional dari teori Freud tentang kecemasan adalah, pertama, ia mengakui bahwa rangsangan internal dan eksternal mengancam ego sebagai akar penyebab kecemasan. Kedua, ia telah mengakui keterlibatan kognisi dalam perkembangan kecemasan.
Sisi irasional dari teori Freud adalah, pertama, dia selalu percaya bahwa kecemasan ditentukan oleh proses instingtif. Kedua, pandangannya bahwa kecemasan muncul sebagai akibat dari ancaman terhadap organisasi fungsional tidak mengungkapkan sifat sebenarnya dari produksi kecemasan.
1.2 Teori Horney tentang kecemasan
Karen Horney Karen Horney (1885-1952) mengkritik determinisme naluriah Freud dan berpendapat bahwa ambivalensi sosial adalah dasar budaya dari konflik internal individu dan dasar sosio-budaya dari kecemasan individu.
Teori Horney tentang kecemasan melepaskan diri dari determinisme naluriah Freud dan mengeksplorasi akar-akar kecemasan dalam masyarakat dan budaya. Tentu saja, teori kecemasan Horney juga memiliki kekurangan, terutama dalam hal, pertama, pemahaman tentang peran faktor sosial budaya pada kecemasan tidak lengkap. Kedua, pemahaman Horney tentang mekanisme psikologis kecemasan cenderung simplistik.
1.3 Teori kecemasan Sullivan
Harry. Tumpukan. Haryy Stack Sullivan (1892-949), dimulai dengan hubungan interpersonal, menguraikan akar sosio-budaya dari kecemasan, mengatasi determinisme insting Freud dan kecenderungan Horney untuk menyederhanakan budaya sosial. Sullivan berpendapat bahwa akar kecemasan terletak pada efek mengancam dari rangsangan sosial, yang muncul ketika mereka mempengaruhi harga diri dan kepercayaan diri seseorang.
Pemahaman Sullivan tentang kecemasan memang sangat mendalam karena, pertama, dia dengan jelas menyatakan bahwa akar penyebab kecemasan terletak pada efek mengancam dari rangsangan sosial. Kedua, peran sentral dari harga diri sebagai faktor dalam timbulnya kecemasan menjadi jelas. Ketiga, mengatasi kecenderungan Horney untuk menghilangkan kekayaan hubungan interpersonal dan melemahkan peran sosial budaya.
Namun, pemahaman Sullivan tentang proses ansiogenesis juga memiliki kekurangan, terutama karena dia mengabaikan peran faktor penilaian kognitif dalam timbulnya kecemasan.
1.4 Teori Jacobsen tentang kecemasan
Roman Jakobson Roman Jakobson (1896-1982) secara kritis mewarisi teori Freud tentang struktur kepribadian ego, diri, dan superego dan percaya bahwa gangguan otonomi individu adalah penyebab kecemasan, dan bahwa lingkungan eksternal juga merupakan faktor penyebab kecemasan. Wawasan berikut ini dapat ditarik dari teorinya tentang kecemasan: pertama, kecemasan muncul dari ketidakmampuan ego untuk mengadopsi gaya perilaku yang disukai sendiri. Kedua, lingkungan eksternal juga merupakan faktor dalam perkembangan kecemasan. Kekurangan teori Jacobson antara lain: masih menganggap kecemasan sebagai pelepasan naluriah, yang jelas dipengaruhi oleh teori awal Freud tentang kecemasan; kedua, pemahaman tentang mekanisme kecemasan masih pada tahap metafisika psikologis Freud, tanpa ada terobosan baru.
1.5 Ringkasan: Kecemasan berasal dari ancaman terhadap harga diri
Secara ringkas, jika kita ingin meringkas teori psikoanalitik tentang kecemasan, maka dapat diringkas sebagai berikut: kecemasan adalah pengalaman emosional yang muncul ketika seorang individu mengantisipasi ancaman terhadap harga dirinya dari rangsangan internal atau eksternal dan merasa bahwa dia tidak mampu mengatasinya; penilaian apakah rangsangan internal atau eksternal mengancam harga diri dan apakah dia mampu mengatasinya ditentukan oleh evaluasi kognitif.
2. Etiologi gangguan kecemasan (faktor psikososial)
Sekarang secara umum diterima bahwa gangguan kecemasan adalah hasil dari kombinasi faktor biologis (genetik, biokimia) dan faktor psikososial.
Teori behavioris menunjukkan bahwa kecemasan adalah refleks terkondisi yang dihasilkan dari rasa takut terhadap rangsangan lingkungan tertentu. Teori psikodinamik menunjukkan bahwa kecemasan berasal dari konflik psikologis internal, konflik yang ditekan di alam bawah sadar selama masa kanak-kanak atau remaja dan diaktifkan di masa dewasa, yang mengakibatkan kecemasan.
3. Perawatan psikologis gangguan kecemasan
Setelah periode perdebatan yang panjang, sekarang diakui bahwa faktor psikososial dan biologi memainkan peran penting dalam perkembangan gangguan kecemasan. Artikel ini berfokus pada penanganan psikologis gangguan kecemasan.
Sejak tahun 1980-an, kemajuan besar telah dibuat dalam pengobatan non-farmakologis gangguan kecemasan dan banyak terapi psikologis, seperti psikoterapi suportif, terapi kognitif dan terapi Morita, dapat digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan.
3.1 Hubungan terapeutik
Rogers percaya bahwa hubungan terapeutik memiliki dampak yang jauh lebih besar pada perubahan kepribadian pengunjung daripada teknik terapeutik, dan bahwa sikap subyektif terapis mempengaruhi kualitas hubungan terapeutik. pada tahun 1957 Rogers mengusulkan enam kondisi untuk perubahan kepribadian yang konstruktif. Murid-muridnya kemudian merangkumnya lebih lanjut menjadi 3 kondisi, yang semuanya tercermin dalam sikap terapis terhadap pengunjung.
3.1.1 Empati (pemahaman empatik)
Empati adalah sikap dan kemampuan terapis untuk berempati dengan dunia internal pengunjung. “Tempatkan diri Anda pada posisi mereka dan berempati dengan mereka”. Sikap dan pemahaman terapis tentang empati terhadap pengunjung dapat diekspresikan dalam dua cara: (i) perilaku non-verbal (postur tubuh, ekspresi wajah, nada suara, kontak mata dengan pengunjung); dan (ii) komunikasi verbal.
3.1.2 Kesesuaian yang tulus
Ketulusan: ketulusan terapis. Terapis dituntut untuk konsisten dan tulus dalam konteks hubungan terapeutik. Menurut Rogers, “ketulusan menuntun pada kepercayaan”. Ketulusan, bersama dengan kondisi terapeutik lainnya, menciptakan suasana yang aman dan tidak mengancam di mana klien dapat mengeksplorasi dirinya sendiri tanpa rasa takut.
3.1.3 Penghargaan positif tanpa syarat
Karena terapis mengadopsi sikap yang sepenuhnya menerima terhadap pengunjung, dan karena terapis mampu mencapai tingkat empati dan pemahaman bagi pengunjung, pengunjung melihat terapis sebagai seseorang yang mendengarkan dan menerima pikiran dan perasaannya, dan dia mampu berkomunikasi sedikit di bawah hatinya sendiri, menata ulang pengalaman atau pengalaman yang sepenuhnya dikecualikan dari kesadaran di masa lalu. Dan tidak peduli betapa tidak dapat dipercaya isi dari apa yang diungkapkan pengunjung, terapis selalu menunjukkan kepedulian dan pemahaman untuk itu. Secara bertahap, pengunjung akan memperlakukan dirinya sendiri dengan cara yang sama dan akan mampu mengungkapkan pikirannya secara lebih terbuka.
3.2 Psikoterapi suportif
Psikoterapi suportif, juga dikenal sebagai pendidikan kesehatan, adalah psikoterapi yang paling banyak digunakan dan paling mudah digunakan, dan juga banyak digunakan untuk mengobati berbagai gangguan kecemasan. Mendengarkan keterangan pasien dengan saksama dapat membuat pasien merasa bahwa dokter peduli terhadap mereka dan memperhatikan kondisi mereka dengan saksama. Pada awal pengobatan, dokter harus menjelaskan kepada pasien tentang gangguan kecemasan dan memberi tahu pasien tentang langkah-langkah apa yang dapat diambil untuk mengelola gejalanya. Hal ini dapat meningkatkan kerja sama pasien dengan dokter, membantu pasien untuk mematuhi rencana pengobatan, dan membuat pasien menyadari bahwa gejala mereka sesuai dengan pola yang diketahui dan bahwa ada teknik pengobatan yang tersedia yang dapat mengarah pada pemulihan yang ditargetkan.
3.3 Terapi kognitif
Pasien dengan gangguan kecemasan memiliki sejumlah persepsi yang terdistorsi tentang berbagai hal yang berkontribusi pada kegigihan penyakit. Setelah penilaian menyeluruh terhadap pasien, terapis harus membantu pasien untuk mengubah persepsi yang terdistorsi atau melakukan rekonstruksi kognitif.
Pendekatan terapi kognitif sangat stereotip dan spesifik, membantu pasien untuk membentuk kembali pandangan maladaptif mereka tentang dunia sehingga mereka mengadopsi sikap yang lebih positif terhadapnya. Ada kurangnya penelitian konklusif tentang efektivitas pendekatan ini dalam mengobati gangguan kecemasan, tetapi ada beberapa bukti bahwa pendekatan ini dapat membantu untuk kecemasan operasional dan fobia sosial.
3.4 Terapi perilaku
Terapi perilaku adalah jenis psikoterapi yang menggunakan metode psikologis eksperimental untuk mengubah gejala dan perilaku individu; pendekatan ini juga dikenal sebagai modifikasi perilaku atau psikoterapi perilaku. Terapi perilaku biasanya menggunakan pelatihan dan terapi berikut ini.
3.4.1 Latihan pernapasan
Pernapasan yang dalam dan lambat memiliki efek relaksasi pada tubuh dan juga memungkinkan terlalu banyak karbondioksida untuk dihembuskan, sehingga menghindari gejala gangguan kecemasan tertentu. Ini adalah salah satu metode relaksasi yang paling sederhana dan paling mudah dipraktikkan.
Pernapasan yang terkendali, seperti pernapasan perut dan pernapasan lambat, tidak hanya memiliki efek ‘pertolongan pertama’, tetapi juga mengurangi tingkat kecemasan Anda secara keseluruhan, tetapi pernapasan perut dan pernapasan lambat memerlukan latihan teratur.
3.4.2 Pelatihan relaksasi
Terapi perilaku yang paling sederhana untuk gangguan kecemasan adalah pelatihan relaksasi. Pelatihan relaksasi, juga dikenal sebagai “terapi relaksasi”, adalah metode pelatihan dasar dan psikologis yang praktis dan efektif yang digunakan dalam berbagai psikoterapi dan didirikan oleh Jacobson pada tahun 1938.
Ruang lingkup aplikasi dan fungsi terapi relaksasi meliputi: (1) pencegahan dan pengobatan neurosis; (2) pengobatan berbagai gangguan psikosomatik; (3) pengobatan berbagai sindrom maladjustment psikososial, seperti sindrom ujian, sindrom maladjustment sekolah, dan fobia sekolah; (4) pelatihan psikologis yang luas untuk mengobati berbagai defisiensi psikologis dan meningkatkan pertahanan psikologis dan potensi mental; (5) pengembangan kontrol diri psikologis; dan (6) pengobatan insomnia dan gangguan tidur lainnya.
Terapi relaksasi yang umum digunakan: (1) metode pelatihan relaksasi pernapasan; (2) metode pelatihan relaksasi imajinasi; (3) metode pelatihan relaksasi rujukan diri. Juga dikenal sebagai “metode perintah diri”.
3.4.3 Terapi pemaparan
Terapi pemaparan digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa takut dan penghindaran terhadap objek, tempat atau situasi dengan bersikeras pada pemaparan langsung atau tidak langsung terhadap objek, tempat atau situasi yang akan ditakuti atau dihindari. Terapi pemaparan terutama digunakan untuk mengobati fobia, tetapi juga digunakan untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif. Terapi pemaparan saja bisa sangat efektif dalam pengobatan fobia spesifik; untuk fobia sosial dan situasional, efek terapi pemaparan saja yang diselidiki dan biasanya perlu dikombinasikan dengan terapi kognitif.
Terapi pemaparan dapat dilakukan dengan cara yang berbeda: di klinik atau ruang perawatan dengan membantu pasien untuk membayangkan secara realistis objek, tempat, atau situasi yang ditakuti sehingga mengalami jenis kecemasan atau ketakutan yang intens yang akan hadir dalam situasi nyata, ini disebut terapi pemaparan imajinatif. Hal ini juga dikenal sebagai terapi desensitisasi imajinal. Hal ini sering dilakukan secara bertahap, dimulai dengan membayangkan skenario yang menyebabkan kecemasan ringan dan secara bertahap membayangkan skenario yang menyebabkan kecemasan yang lebih intens. Ini juga disebut terapi pemaparan kehidupan nyata. Pemaparan mendadak terhadap situasi yang memicu kecemasan parah dikenal sebagai terapi kejut, dan pendekatan langkah demi langkah yang bergerak dari kecemasan ringan hingga parah dikenal sebagai terapi pemaparan langkah demi langkah.
3.5 Terapi Morita
Terapi Morita adalah teori dan metode psikoterapi yang unik dan mandiri berdasarkan latar belakang budaya Timur, yang didirikan oleh psikiater Jepang, Dr Morita Shoma sekitar tahun 1920-an.
3.5.1 Fitur Terapi Morita
(1) Fokus pada masa sekarang tanpa bertanya tentang masa lalu. Perawatan ini mengadopsi “prinsip realitas”, yang tidak mengejar pengalaman kehidupan masa lalu, tetapi mengarahkan perhatian pasien ke masa kini, mendorong pasien untuk memulai dari masa kini dan membuat kehidupan nyata menjadi hidup.
(2) Fokus pada tindakan daripada gejala. Pengobatan berfokus pada membimbing pasien untuk mengambil tindakan positif, “tindakan mengubah karakter” dan “bertindaklah seperti orang yang sehat dan Anda akan menjadi orang yang sehat”.
(3) Bimbingan dalam kehidupan, perubahan dalam kehidupan. Terapi Morita tidak menggunakan peralatan atau fasilitas khusus apa pun, dan menganjurkan untuk hidup seperti orang normal dalam kehidupan yang sebenarnya sambil mengubah pola perilaku dan persepsi pasien yang buruk.
(4) Memupuk karakter dan membangun kekuatan serta menghindari kelemahan. Terapi Morita percaya bahwa karakter tidak tetap, dan bahwa setiap karakter memiliki sisi positif dan negatif, dan harus diasah melalui kehidupan sosial yang positif untuk memunculkan kekuatan dan menekan kelemahan dalam karakter.
3.5.2 Prinsip-prinsip Terapi Morita
Prinsip-prinsip dasar berikut ini secara umum diikuti dalam proses pengobatan dengan menggunakan terapi Morita.
(l) Biarkan alam mengambil jalannya sendiri. Morita percaya bahwa ketika gejala-gejala muncul, seseorang harus bersikap tanpa beban terhadap gejala-gejala tersebut, membiarkan alam berjalan dengan sendirinya, menerimanya apa adanya dan tidak menganggapnya sebagai masalah khusus, dan memperlakukannya dengan pikiran yang normal.
(2) Menderita dan melakukan apa yang benar. Pasien harus melakukan apa yang perlu mereka lakukan untuk menahan rasa sakit dan melakukan apa yang perlu mereka lakukan, tidak peduli betapa menyakitkannya, sehingga mereka bisa menjadi lebih baik tanpa menyadarinya.
(3) Berorientasi pada tujuan, berorientasi pada tindakan. Terapi Morita menganjurkan bahwa pasien harus meninggalkan pendekatan berbasis emosi mereka terhadap kehidupan dan sebaliknya dipandu oleh tindakan mereka.
(4) Mengatasi rasa rendah diri dan mempertahankan rasa percaya diri. Ketika melayang-layang di antara melakukan dan tidak melakukan, seseorang harus cukup berani untuk bertindak, bahkan jika ia tidak percaya diri atau mungkin gagal. Sukses itu mungkin jika seseorang mencoba.
3.6 Terapi psikoanalitik
Seperti bentuk-bentuk psikoterapi lainnya, teori dan teknik terapi psikoanalitik memerlukan studi dan pelatihan yang sistematis. Ada tiga aspek pembelajaran dan pelatihan: pembelajaran teori, praktik kasus, dan pengalaman diri yang dianalisis. Sebagai contoh, seorang pasien neurotik yang mengalami trauma dapat dengan mudah menimbulkan simpati yang mendalam bagi analis dengan pengalaman sulitnya, dan pemahaman serta perhatian yang ditunjukkan kembali kepada pasien akan menginspirasi rasa terima kasih, kepercayaan, dan ketergantungan pada analis. Dalam proses ini, respon emosional pasien terhadap analis disebut empati dan respon emosional analis terhadap pasien disebut kontra-empati.
Selain penggunaan empati dan kontra-empati sebagai alat analisis, ada teknik dan elemen psikoanalisis lebih lanjut, seperti analisis mimpi, pemrosesan impedansi, dll., Tetapi semua teknik ini terkait dengan empati dan kontra-empati dalam hubungan terapeutik.
4. Farmakoterapi versus psikoterapi
Kami menekankan bahwa pengobatan gangguan kecemasan dimulai dengan psikoanalisis yang tepat. Berdasarkan psikoanalisis dan psikoterapi, obat anti-kecemasan dan depresi dengan sedikit efek samping diberikan, dan pasien dengan kelemahan neurologis yang ekstrem diberikan pengobatan untuk menyehatkan saraf otak dan memperbaiki mikrosirkulasi. Proses pengobatan dimulai dengan analisis yang benar terhadap gejala psikologis dan somatik yang ada pada pasien, memberikan penjelasan dan analisis yang tepat kepada pasien. Atas dasar ini, pasien dibantu untuk mengidentifikasi pemicu psikologis dan pemicu keluarga dan sosial yang memicu penyakit, dan pasien dibantu untuk memecahkan kebingungan psikologis yang ada dari perspektif psikologis. Metode utama yang digunakan adalah terapi kognitif dan terapi perilaku, termasuk terapi pemaparan, rekonstruksi kognitif dan pelatihan keterampilan sosial.