Cara mengobati gangguan tidur pada pasien kanker

       Penelitian telah menemukan bahwa prevalensi gangguan tidur lebih tinggi pada pasien kanker dibandingkan dengan individu yang sehat. Penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa prevalensi gangguan tidur yang dilaporkan secara spontan pada populasi kanker berkisar antara 30% hingga 50%, dan mencapai 37% hingga 38% pada pasien kanker payudara dan paru-paru. Sebuah penelitian di dalam negeri menunjukkan bahwa prevalensi gangguan tidur di antara pasien dengan berbagai jenis dan stadium kanker adalah 26,54%.  Manifestasi utama gangguan tidur pada kanker adalah insomnia, yang biasanya mengacu pada pengalaman subjektif di mana pasien merasa tidak puas dengan durasi dan/atau kualitas tidur dan memengaruhi fungsi sosial di siang hari.  Bentuk klinis insomnia yang umum terjadi meliputi: (i) kesulitan tidur yang signifikan, dengan latensi tidur yang berkepanjangan (lebih dari 30 menit); (ii) atau kesulitan mempertahankan tidur, dengan peningkatan jumlah dan durasi terbangun (>2); (iii) penurunan kualitas tidur, dengan tidur yang ringan dan mimpi yang berlebihan; (iv) durasi tidur total yang lebih pendek, biasanya kurang dari 6 jam; dan (v) peningkatan terbangun lebih awal dan kantuk di siang hari.  Pada tahap awal diagnosis, gangguan tidur dapat bertindak sebagai respons psikologis. Saat mengetahui kanker, pasien mengalami berbagai tingkat kemarahan, depresi, stres, penyangkalan, ketakutan, gangguan nafsu makan dan tidur, penurunan berat badan, dll. Reaksi-reaksi ini merupakan reaksi stres psikologis yang normal dan dapat hilang setelah beberapa waktu. Beberapa pasien mungkin menunjukkan gejala yang lebih menetap seperti kecemasan, depresi, agitasi, ketidakstabilan emosi dan gangguan memori. Insomnia sering kali menyebabkan pasien merasa tidak cukup beristirahat dan diremajakan pada siang hari dalam berbagai tingkatan, yang mengakibatkan rasa kantuk, depresi, berkurangnya konsentrasi, kesulitan berpikir dan reaksi yang lambat. Meningkatnya rasa takut akan insomnia dan kekhawatiran yang berlebihan akan konsekuensi dari insomnia sering kali menyebabkan lingkaran setan insomnia yang tidak dapat disembuhkan untuk waktu yang lama.  Pengobatan gangguan tidur pada kanker dimulai dengan pengobatan penyakit primer dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip pengobatan kanker. Selain pengobatan anti-kanker, gangguan tidur harus ditangani seperlunya, dan tindakan yang berbeda harus dikembangkan untuk penyebab yang berbeda untuk mencapai tujuan pengobatan yaitu meredakan gejala, mempertahankan struktur tidur yang normal, memulihkan fungsi sosial, dan meningkatkan kualitas hidup. Terlepas dari penyebab gangguan tidur, pengobatan aktif terhadap gangguan tidur dapat memperbaiki penyakit fisik. Nyeri kanker adalah penyebab penting insomnia dan pasien harus ditangani secara agresif untuk mengatasi nyeri.  Kebersihan tidur yang buruk dapat mengganggu ritme tidur normal dan menyebabkan gangguan pola tidur, sehingga menyebabkan insomnia. Pasien harus dididik untuk belajar mengendalikan dan memperbaiki berbagai perilaku yang mengganggu tidur. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, mempertahankan waktu bangun yang teratur dan meminimalkan waktu yang dihabiskan di tempat tidur. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa terapi kognitif dan perilaku efektif untuk mengatasi insomnia. Terapi perilaku meliputi pelatihan relaksasi, terapi kontrol stimulus, dan terapi pembatasan tidur.  Non-benzodiazepin umumnya dipilih sebagai obat lini pertama untuk pengobatan insomnia. Kecemasan adalah gejala umum pada pasien kanker dan cenderung mengganggu tidur. Benzodiazepin umumnya digunakan untuk meningkatkan kualitas tidur bersama dengan pengobatan anti-kecemasan. Untuk pasien dengan gangguan tidur yang berhubungan dengan suasana hati yang tertekan atau nyeri, pengobatan antikanker harus disertai dengan antidepresan yang membantu efek sedatif-hipnotis.