Imunosupresi telah ditemukan untuk mengurangi frekuensi kekambuhan pada sebagian besar pasien dengan optic neuromyelitis optica (NMO) dan merupakan komponen penting dari pengobatan profilaksis dalam remisi atau fase kronis NMO. Bagaimana seharusnya imunosupresi digunakan pada pasien dengan NMO? Pertama, penting untuk menentukan pasien mana yang memerlukan imunosupresi? Pemikiran saat ini menunjukkan bahwa indikasi klinis untuk terapi imunosupresif meliputi: 1) kecacatan parah dari episode pertama; 2) titer antibodi anti-AQP4 serum yang meningkat secara signifikan yang tetap tinggi setelah pengobatan akut; 3) pasien dengan ketergantungan hormon yang signifikan. Kedua, opsi imunosupresan apa yang tersedia? Ada beberapa agen imunosupresif yang tersedia secara klinis: hormon oral 5-20mg/d; azathioprine 2mg/kg/d; tilmicosin 2g/d; rituximab 375mg/m2/w, 4w; prothrombin 0,4g/kg/d, 5d mitoxantrone 12mg/m2/mon, dosis kumulatif 140mg/m2 cyclophosphamide 1g/mon dan dosis kumulatif 10g methotrexate 7,5-25mg/wk cyclosporine A2-5mg/kg/d. Akhirnya, perlu dicatat bahwa sekali obat imunosupresif diperlukan, obat ini harus diterapkan dalam dosis yang memadai sesuai toleransi, jika tidak, obat ini tidak akan bekerja untuk mencegah kekambuhan; selain itu, karena efek samping toksik dari obat imunosupresif, obat ini harus diterapkan di bawah pengawasan medis profesional.