Orang tua dan staf rehabilitasi harus melakukan pendekatan berikut ketika merawat anak: 1. Mencari kerja sama anak: ajari anak ketika ia paling bersemangat. Misalnya, ketika dia lapar, dia dapat diajarkan untuk makan, sebaiknya dikombinasikan dengan permainan, karena ini adalah saat di mana anak dan orang tua merasa senang, sejak dini seperti membelai, menyuapi, menyentuh hidung, mencium, dll. Atau ajarkan bernyanyi, meniup, membuat wajah, bersembunyi dan mengintip, dll. 2. Durasi pelatihan tidak boleh terlalu lama dalam satu waktu jika memungkinkan, dan bentuk pelatihan untuk anak yang terkena dampak harus bervariasi. Lakukan yang terbaik untuk menarik perhatiannya dan cegah adanya paksaan. 3. Jangan berdebat: Para ibu sering kali terburu-buru dalam melatih anaknya dan tidak sabar untuk segera bisa berjalan atau berlari. Jika ia mendapati bahwa anaknya lalai atau lambat dalam perkembangannya, ia akan menjadi tidak sabar, menegur, memarahi, atau bahkan memukul anak tersebut. Instruksi pelatihan harus konstruktif dan mengikuti prinsip peragaan-tunggu-dorongan-tunggu-peragaan untuk memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk merespons. Ketika dia menyelesaikan sesuatu dan melakukan gerakan dengan baik, berikan dorongan segera. 4. Berikan anak rasa pencapaian: misalnya, ketika makan dengan sendok, Anda dapat memegang tangannya, membantunya memegang sendok, mengambil makanan dan membawanya ke mulutnya. Setelah mengulanginya beberapa kali, Anda dapat melepaskan makanan sebelum hampir masuk ke dalam mulutnya dan membiarkan anak menyelesaikan tindakan terakhirnya sendiri, sehingga ia memiliki rasa pencapaian karena telah melakukannya sendiri. 5 . Ketika Anda menghadapi perlawanan atau emosi negatif dari anak, Anda dapat mengambil sikap mengabaikannya, misalnya, jika dia menolak untuk makan, jangan marah, ambil makanannya dan tunggu sampai waktu makan berikutnya untuk memberikannya, sehingga dia akan lebih cemas daripada Anda, yang tidak kejam dan jauh lebih baik daripada hanya memaksa atau mengakomodasi. 6. Anda harus memiliki kesabaran dan waktu: seorang anak dengan cerebral palsy harus dibimbing oleh kesabaran orang tuanya sebelum dia dapat belajar apa pun, jika tidak, dia tidak akan belajar apa pun. Sebagai contoh, seorang anak dengan quadriplegia dapat diajari untuk menganggukkan kepala dan menggelengkan kepala untuk mengatakan “ya” atau “tidak”, atau menggunakan kakinya untuk menggambar ketika tangannya tidak bekerja, dan orang tua harus berhati-hati untuk mengeksplorasi potensinya.