Asupan energi, kepadatan energi dan asupan nutrisi dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 pada orang dewasa, tetapi dampaknya pada risiko diabetes tipe 2 yang muncul saat ini pada anak-anak tidak jelas. Dr Donin dkk dari School of Population Health Sciences and Education, University of London, Inggris, mempelajari hubungan pengaruh-pengaruh ini dalam kelompok anak-anak multi-etnis, dan makalah ini diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional terhadap 2.017 anak, termasuk orang Eropa kulit putih, Asia Selatan dan Afrika hitam (Karibia asli), berusia 9-10 tahun. Data dikumpulkan melalui recall diet 24 jam secara rinci, pengukuran komposisi tubuh, sampel darah puasa untuk mengukur konsentrasi glukosa darah, HbA1c dan kadar insulin serum, dan perhitungan indeks resistensi insulin HOMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan energi berhubungan positif dengan resistensi insulin. Korelasi antara asupan energi dan resistensi insulin lebih jelas setelah mengeluarkan 176 peserta yang asupan energinya tidak masuk akal (karena asupan energi mereka tidak mewakili asupan kebiasaan) dan berkorelasi dengan indeks glikemik dan adipositas. Selain itu, kepadatan energi juga berkorelasi positif dengan resistensi insulin dan indeks adipositas. Setelah analisis koreksi silang, resistensi insulin tetap berkorelasi dengan asupan energi, tetapi tidak dengan kepadatan energi. Asupan nutrisi individu tidak berkorelasi dengan penanda risiko diabetes tipe 2. Studi ini menyimpulkan bahwa asupan energi total yang lebih tinggi secara signifikan terkait dengan tingkat resistensi insulin yang lebih tinggi, yang dapat membantu menjelaskan risiko diabetes tipe 2 yang muncul saat ini pada anak-anak.