Sejumlah besar gen yang berhubungan dengan RP telah diidentifikasi, yang paling penting di antaranya adalah gen hemoglobin retina (gen RHO): misalnya, pro-23-His, pro-23Leu, por-347Leu, mutasi titik yang menyebabkan substitusi asam amino atau penghentian protein RHO yang mengakibatkan disfungsi penglihatan; gen peripherin / RDS yang memperlambat degenerasi retina (gen RDS). Gen RDS); guanosin fosfodiesterase siklik (gen PDE); dan gen kotak homologi batang kerucut (gen CRX). Mengenai pengobatan RP, beberapa pencapaian yang menjanjikan juga telah dibuat, termasuk: pertama, transplantasi retina untuk pengobatan RP telah menyelesaikan penelitian metodologis, dan telah berada dalam tahap penelitian yang berfokus pada konstruksi fungsional dan efek terapeutik, dan keamanan teknologi transplantasi retina telah dibuktikan dengan studi klinis fase I; kedua, implantasi prostesis visual telah menjadi topik penelitian yang hangat di bidang prostesis visual buatan, dan implantasi prostesis retina di rongga subretina RP dan di permukaan retina telah selesai. Implantasi prostesis retina di rongga subretina dan permukaan retina RP, serta saraf optik dan strip prostesis kortikal; selanjutnya, faktor neurotropik, sitokin, penghambat saluran kalsium, dan faktor anti-apoptosis memiliki efek memperlambat degenerasi fotoreseptor, dan pengobatan komprehensif gabungan pengobatan Tiongkok dan Barat dengan faktor saraf telah dilakukan di lebih banyak tempat di Tiongkok; Selain itu, pengobatan RP dengan terapi sel punca, termasuk sel punca embrionik, sel punca saraf, dan transplantasi iPS, telah membuat kemajuan besar dan secara bertahap digunakan di klinik; Akhirnya, terapi gen merupakan topik penelitian yang sedang hangat di bidang restorasi visual buatan. Terakhir, terapi gen, termasuk terapi gen antisense untuk ADRP, teknologi suplementasi gen untuk ARRP, dan terapi gen anti-apoptosis dan faktor neurotropik untuk XLRP, MtRP, SRP, dan DRP. Meskipun lima sistem teknologi utama (transplantasi retina, implantasi prostesis visual, terapi obat, sel punca, dan terapi gen) belum sepenuhnya diimplementasikan di klinik, namun dengan keterlibatan biologi molekuler, rekayasa genetika dan elektronik, material nano, serta disiplin ilmu lainnya, manusia diharapkan dapat melakukan terobosan baru dalam pengobatan RP.