Pengembangan karakter anak

I. Apakah karakter itu? Karakter mengacu pada ciri-ciri kepribadian seseorang, yaitu sikap dan pendekatannya terhadap dunia. Pertama-tama, kita mengenal konsep sifat dan kebiasaan. Sifat adalah apa yang kita bawa sejak lahir, dan kebiasaan adalah apa yang kita kembangkan di kemudian hari. Misalnya, seekor kucing dapat memanjat pohon dan suka menangkap tikus, ini adalah sifatnya. Setelah dilatih sebagai hewan peliharaan, seekor kucing bisa pergi ke toilet sendiri, ini adalah kebiasaan. Manusia adalah makhluk yang lebih maju, terutama dalam masyarakat yang beradab, dan mereka dilahirkan dengan pendidikan yang panjang dalam pengetahuan, moralitas, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi manusia, sifatnya kurang terpelihara dan kebiasaannya mengambil proporsi yang lebih besar. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa tiga bagian adalah nature dan tujuh bagian adalah nurture. Inilah yang dimaksud dengan pepatah yang mengatakan bahwa sifat manusia itu baik, dan jika sifat seseorang serupa, kebiasaannya jauh. Agar seorang anak memiliki karakter yang baik, ia harus diasuh dengan benar. II. Apakah temperamen itu? Temperamen adalah salah satu karakteristik psikologis kepribadian, kualitas bawaan yang merupakan dasar dari perkembangan kepribadian. Temperamen memainkan peran penting dalam perkembangan kepribadian anak. Setiap anak memiliki temperamen yang unik dan memahami temperamen adalah hal yang penting bagi orang tua dan guru untuk menyesuaikan perkembangan anak. Setiap orang memiliki sikap dan pendekatan yang berbeda terhadap orang lain dan berbagai hal, ada yang lembut, ada yang kasar, ada yang sederhana dan langsung, ada yang tidak fleksibel, ada yang kuat dan tegas, ada yang lemah dan ragu-ragu, ada yang ceria, ada yang pendiam, ada yang murah hati, ada yang egois, ada yang penurut, ada yang keras kepala. …… Bayi yang baru lahir tidak berkarakter, tetapi jika diperhatikan dengan seksama, mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Misalnya, jika mereka lapar, anak-anak cenderung menangis, tetapi mereka menangis dengan cara yang berbeda, ada yang banyak menangis dan ada yang berhenti menangis setelah beberapa saat. Setelah penelitian, ditemukan bahwa anak-anak memiliki temperamen yang berbeda, sehingga para psikolog mengklasifikasikannya sebagai penurut, keras kepala, pemula yang lambat, dan menengah. Penentuan temperamen anak dilakukan pada usia yang berbeda, 0 sampai 1 tahun, 1 sampai 3 tahun dan 3 sampai 7 tahun. III. Bagaimana temperamen anak dinilai? Dalam bentuk kuesioner, 9 dimensi temperamen diukur. 1. Tingkat aktivitas: Apakah anak ini lebih banyak bergerak atau diam saja setiap hari? Apakah ia menari-nari ketika menangis? Apakah ia duduk dengan tenang di dalam mobil? dll. 2. Ritme: Apakah anak lapar ketika waktunya, tidur ketika waktunya? Apakah ia buang air besar secara teratur? dll. 3. Penghindaran: Apakah Anda takut api? Apakah Anda berani atau tidak? Apakah Anda takut dengan orang yang kasar? dll. 4. Kemampuan beradaptasi: Apakah Anda akan mengalami kesulitan tidur selama beberapa hari di tempat baru? 5. Reaktivitas: Apakah Anda mudah marah? Apakah dia berubah-ubah? Jika seorang anak mencuri mainan darinya, apakah dia harus mendapatkannya kembali? dll. 6. Sifat emosional: Apakah anak stabil secara emosional? Apakah dia bekerja sama dalam permainan? Apakah dia memukul atau tidak? dll. 7. Ketekunan: Apakah Anda suka menonton TV? Apakah dia suka membaca buku bergambar? Apakah dia akan memegang pena untuk waktu yang lama? dll. 8 . Perhatian yang teralihkan? Apakah dia melihat sekeliling saat bercerita? dll. 9. Ambang batas reaksi: apakah itu berlangsung selama beberapa hari jika suasana hatinya sedang buruk? dll. Hasil tes ini berbeda untuk setiap anak, tetapi ada rentangnya dan jika menyimpang terlalu jauh, maka harus diperbaiki. Temperamen hanyalah pembagian psikologis dan tidak baik atau buruk. Sebagai contoh, anak yang keras kepala cenderung gigih dalam belajar, anak yang penurut memilikinya karena mereka berperilaku lebih baik, atau mereka terkadang memiliki IQ yang rendah, dll. IV. Hubungan antara temperamen dan kepribadian Temperamen anak berbeda-beda dan dapat berubah oleh gangguan di lingkungan luar. Oleh karena itu, sebagai orang tua, hal pertama yang perlu Anda ketahui adalah temperamen anak Anda, dalam hal tipologi umum, untuk melihat tipe mana yang dia miliki, apakah dia penurut, atau keras kepala? Apakah ia termasuk tipe yang lambat, atau tipe menengah? Seberapa baik dia beradaptasi di sembilan dimensi? Apakah dia memiliki rentang perhatian yang terganggu? Apakah dia belajar dengan baik atau tidak? Apakah dia pendiam atau aktif? Bagaimana kemampuan motoriknya? Penting untuk memahami temperamen anak agar program perkembangan yang spesifik dapat ditentukan. Setiap kepribadian sering kali merupakan jalan dua arah, misalnya, mereka yang keras kepala cenderung tangguh dan mereka yang penurut cenderung kurang tegas. Usia 0 hingga 3 tahun adalah periode kritis untuk pembentukan karakter. Beberapa pengalaman buruk, seperti pukulan, pelecehan, cedera, kemiskinan, penghinaan, penjebakan, dan keluhan, dapat membayangi jiwanya. Secara umum, dari usia 0 hingga 6 tahun, perkembangan utama karakter, dari usia 6 hingga 12 tahun, pembentukan moral utama, dan dari usia 12 hingga 18 tahun, pembentukan cita-cita dan rasa hormat dan malu. Ketiga tahap tersebut saling terkait, dan pembentukan moral, baik atau buruk, dinilai secara berbeda oleh setiap orang tua, dan ini adalah masalah lingkungan moral. Sebagai contoh, jika seorang anak dilahirkan dalam keluarga biasa, mengenai masalah mencuri, orang tua akan mengatakan bahwa itu buruk, sementara orang tua dari seorang pencuri akan mengatakan bahwa itu baik. V. Pengembangan karakter 1. Memahami temperamen, memahami IQ, EQ, pemeriksaan integrasi sensorik, tes perhatian, kuesioner gaya hidup anak. 2. Mengembangkan rencana, kekuatan dan kelemahan karakter, karakter yang diinginkan, mengikuti arus, menetapkan target perilaku seperti tekad, stamina, ketegasan, kerendahan hati, kreativitas, kemandirian, ketekunan menggunakan otak dan tangan, pengambilan keputusan, eksekusi, ketekunan, keberanian, adaptasi, tanggung jawab, kinerja, komunikasi, menerima kegagalan, menghadapi kemunduran, dan mengembangkan semangat kolaboratif. Contoh, anak-anak yang penurut, tidak tegas, penakut, tidak efisien dan temperamental. 3. Metode pendidikan yang dipandu seperti induksi, penargetan, skenario, dll. 4. Memperhatikan untuk memasukkan pendidikan ke dalam kegiatan sehari-hari selama 24 jam, seperti makan, berpakaian, tidur, mencuci, ke toilet, berganti pakaian, bepergian, pulang ke rumah, mengunjungi kerabat, dll. 5. Pentingnya penghargaan, pujian, dan dorongan. 6. Pujian besar dan kritik kecil. 7 . Kritik harus sopan dan orang tua tidak boleh kehilangan kesabaran. 8 . Terapi perilaku dapat diringkas secara sederhana sebagai: perilaku – penguatan – karakter, perilaku – abaikan – hilang . 9 . Penguatan positif, penguatan negatif. 10 .Mengajar dengan contoh lebih baik daripada mengajar dengan kata-kata. 11 . Penanaman pandangan moral. 12, Cita-cita dan penanaman rasa hormat dan rasa malu.