Kesalahan diagnosis gangguan Tourette pada anak-anak

Gangguan tic sebagian besar bermanifestasi sebagai kedipan mata, cemberut, mengangkat hidung, memiringkan mulut, memiringkan kepala, menggelengkan kepala, menganggukkan kepala, mengangkat bahu, gemetar tangan dan kaki, memutar, vokalisasi dan bahasa yang tidak senonoh, serta sering kali salah didiagnosis sebagai ADHD, konjungtivitis, faringitis, kejang-kejang hipokalsemia, epilepsi, korea, dan kondisi lainnya. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gangguan tic paling sering salah didiagnosis sebagai ADHD. Ada 2 alasan utama mengapa gangguan tic sering salah didiagnosis sebagai ADHD. 1. Konsep yang kabur: Selain menjadi nakal, lalai, dan impulsif, ADHD juga dapat bermanifestasi dalam bentuk tics seperti bertingkah atau berteriak-teriak yang disengaja, dan hampir separuh anak-anak dengan tics dapat disertai dengan hiperaktif. 2, tidak terbiasa dengan manifestasi klinis dan karakteristik ADHD: inti dari ADHD adalah aktivitas yang berlebihan, defisit perhatian dan impulsif yang berubah-ubah, sedangkan inti dari gangguan tic adalah kedutan kelompok otot, sering kali salah mengartikan peningkatan frekuensi gangguan kedutan sebagai ADHD dalam kehidupan sehari-hari, dan kurangnya kesadaran akan koeksistensi keduanya, serta tidak dapat membedakan prioritas. Kasus konjungtivitis sering kali salah didiagnosis pada anak-anak dengan kedipan sederhana atau berkedip sebagai gejala pertama. Pada konjungtivitis kronis, berkedip juga dapat terjadi dengan adanya iritasi okular, tetapi tidak dengan kedutan otot mata yang tiba-tiba, cepat, dan berulang yang merupakan ciri khas gangguan tic, bersama dengan kongesti konjungtiva, pengaburan pembuluh darah, hiperplasia papilomatosa, folikulabilitas, serta nyeri dan gatal pada mata yang tidak terdapat pada TD. Kasus-kasus yang salah didiagnosis sebagai faringitis adalah anak-anak dengan kedutan suara yang sederhana, semuanya dengan durasi lebih dari satu bulan, dan pemeriksaan dada serta faring yang diulang menunjukkan hasil yang normal. Selain karakteristik di atas, kedutan vokal sering kali pendek, bernada tinggi dan keras, dengan amplifikasi yang disengaja, bukan batuk yang sebenarnya, dan berulang dalam waktu yang lama serta tidak efektif dengan pengobatan antiinflamasi, tidak seperti batuk dan radang faring pada faringitis. Kasus yang salah didiagnosis sebagai kejang hipokalsemik terutama terjadi pada anak-anak yang lebih muda dengan kepala, wajah, dan anggota tubuh yang berkedut secara dini, dan kesalahan diagnosis tampaknya terkait dengan ketidaktahuan tentang kejang motorik TD yang tiba-tiba, cepat, berulang, dan terisolasi. Kasus-kasus yang salah didiagnosis sebagai epilepsi sebagian besar disalahartikan sebagai kejang motorik parsial atau kejang mioklonik. Kejang TD memiliki pola perkembangan, dimulai dengan berkedip dan berkembang secara bergelombang hingga generalisasi. Sebaliknya, sebagian besar kejang memiliki bentuk yang lebih tetap dan jauh lebih jarang terjadi dibandingkan dengan TD. EEG merupakan dasar penting untuk diferensiasi. Untuk mencegah kesalahan diagnosis, penting untuk terlebih dahulu memahami karakteristik gangguan tic pada anak-anak: kejang berlangsung cepat, hilang seketika, dapat dipicu oleh stres, kelelahan, pilek, dan dapat diperburuk, dan gejala berkurang atau hilang saat tidur. Gejala-gejala tersebut sering kali berfluktuasi dalam tingkat keparahannya, dan beberapa di antaranya disertai dengan hiperaktif. Kedua, masyarakat, terutama guru sekolah dan orang tua, harus memperhatikan pendidikan kesehatan mental anak, mengurangi beban psikologis anak, memperkuat pendidikan kesehatan, membiarkan guru dan orang tua memahami pengetahuan tentang gangguan tic, tidak memarahi dan menegur anak karena berkedut, dan menjaga anak-anak yang terkena dampak dalam suasana hati yang nyaman. Terakhir, meningkatkan pemahaman dan diagnosis gangguan ini merupakan langkah yang sangat penting untuk mengurangi kesalahan diagnosis. Dokter harus memperkuat pengetahuan profesional mereka tentang gangguan tic, memperluas pemikiran diagnostik mereka, dan memahami bahwa ada beberapa tics motorik dan satu atau lebih tics vokal dalam perjalanan penyakit. Untuk mengatasi kekurangan pemikiran diagnostik yang sempit dan mengabaikan hubungan horizontal pengetahuan profesional dalam berbagai disiplin ilmu, mereka harus mengamati kasus dengan cermat, bertanya tentang riwayat medis yang relevan dan manifestasi gejala, dan membuat analisis komprehensif tentang kondisi tersebut. Meningkatkan tingkat diagnosis dan pengobatan gangguan psikoneurologis oleh praktisi awam dan pekerja perawatan primer untuk menghindari kesalahan diagnosis dan diagnosis yang terlewat.