Tes apa yang menunjukkan kelainan pada tumor neuroendokrin? Tumor neuroendokrin fungsional dikaitkan dengan produksi hormon yang berlebihan, sehingga kadar hormon yang tinggi secara abnormal yang terdeteksi dalam serum sangat mencurigakan adanya tumor neuroendokrin. Secara khusus, penanda tumor yang disebut chromogranin A (CgA) saat ini merupakan penanda universal yang paling berharga untuk tumor neuroendokrin, dan kadar CgA serum yang meningkat tidak hanya dapat mengindikasikan tumor neuroendokrin, tetapi juga menilai respons pasien terhadap pengobatan dan prognosis. Jika dicurigai adanya tumor neuroendokrin, bagaimana diagnosis dapat dikonfirmasi langkah demi langkah? Pada pasien yang dicurigai menderita tumor neuroendokrin, dokter pertama-tama akan menggunakan berbagai tes untuk membantu menentukan lokasi tumor, serta menguji serum CgA pasien. pemeriksaan patologis lesi kemudian akan dilakukan untuk membantu membuat diagnosis klinis yang pasti. Setelah tes-tes ini, dokter akan dapat menentukan, bukan hanya apakah pasien memiliki tumor neuroendokrin, tetapi juga menentukan lebih lanjut jenis tumor neuroendokrin yang mana, dan untuk menilai serta menentukan stadium tumor. Bagaimana kolonoskopi, CT, MRI dan tes lainnya dipilih untuk digunakan dalam diagnosis? Terlepas dari kemajuan pesat dalam tes laboratorium dan teknik pencitraan, masih ada penundaan rata-rata sekitar 5-7 tahun dalam diagnosis tumor neuroendokrin. Oleh karena itu, untuk meningkatkan tingkat deteksi tumor primer, dianjurkan untuk melakukan beberapa tes pencitraan jika perlu, dan melakukan CT, magnetic resonance imaging (MRI) dan pencitraan reseptor penghambat pertumbuhan (SRS, yang memberi label radionuklida pada jaringan tumor untuk diagnosis lokal fokus tumor dan metastasis) secara bersamaan untuk lokalisasi.